BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Pada zaman modernisasi saat ini ilmu logika adalah suatu sub
pikiran yang bisa dibilang dominan dalam kehidupan di mayarakat.Ilmu logika
merupakan merupakan pola pikir pasti dan secara nyata. Didalam ilmu logika,
pasti di dalamnya akan ditemukan yang namanya pemikiran, pernyataan atau
penalaran. Dengan kata lain dalam ilmu logika akan dijumpai masalah tentang hal
tersebut. Pada dasarnya yang namanya pemikiran merupakan kegiatan atau langkah
kedua dalam pembahasan ilmu logika. Pembahasan tentang masalah pemikiran ini
biasanya disebut dengan pemikiran. Pemikiran merupakan suatu imajinasi
yang dimilki seseorang yang berguna untuk mengembangkan kemampuan diri melalui
pola pikir. Pola pikir masyarakat pada zaman sekarang cenderung
konsumtif dan tidak mau berfikir kreatif. Padahal pada dasarnya setiap
indivudu memiliki tingkat kreatifitas dan pola pikir yang menarik antara individu
satu dengan individu lainnya. Tidak hanya itu masyarakat saat ini juga terlalu sangat
apatis dengan lingkunganya, sehingga tak heran banyak timbul
permasalahan
yang ada karena adanya sikap apatis tersebut. Masyarakat apatis adalah yang mempunyai pemikiran yang kurang
luas dan mengglobal yang hanya berfikir untuk kesenangan dan tidak memikirkan
apa dampak dari semua itu. Dari permasalahan tersebut ada efek dominan dan efek
sampingan. Efek sampingan dari pola pikir yang baik dan mengglobal adalah kita dapat memberikan
konstribusi baik dan bermanfaat bagi lingkungan. Sedangkan efek dominannya kita dapat
selalu memiliki ide-ide dan pola pikir
yang cermerlang untuk kedepanya.
Untuk
mengembangkan dan mengasah agar pola pikir kita menjadi selalu cemerlang dan
kreatif banyak hal yg perlu dilakukan. Salah satunya adalah melalukan
tindakan yang positif dalam setiap hal yang kita lakukan dalam kegiatan
sehari-hari maupun kegiatan non sehari-hari. Untuk melalukan semua itu tentu
dalam diri kita perlu adanya motivasi atau dorongan yang sangat kuat guna untuk
mencapai semua yang kita inginkan. Maka dalam diri kita perlu memiliki
gagasan atau pola pikir yang sangat kreatif. Langkah yang sangat jitu untuk
mengembangkan motivasi dalam diri kita adalah, kita harus selalu yakin dan harus
bisa menghargai diri kita terlebih dahulu.Karena didalam diri kita terdapat
banyak potensi dan pola pikir yang sangat kreatif. Tanpa kita ketahui sebenarnya
didalam diri kita banyak menyimpan potensi yang terpendam yang tidak kita ketahui
sebelumnya. Maka dengan itu kita perlu belajar dan menerapkan nilai-nilai ATTITUDE didalam diri kita. Salah satu nilai yang perlu kita
kembangkan dan contoh adalah “THOUGHT”. Thought merupakan suatu pola pikir
kreatif dan konstruktif guna mengembangkan potensi yang kita miliki. Melalui nilai-nilai yang terdapat
pada Thought diharapkan bisa membuat diri kita menjadi sosok pribadi yang
kreatif serta memiliki tingkat imajinasi yang tinggi.
B. Rumusan Masalah
0.
Apa pengertian
dari kreativitas?
1.
Apa saja ciri-ciri orang yang memiliki kreatifitas?
2.
Apa saja yang mempengaruhi
faktor-faktor tumbuhnya kreatifitas?
3.
Apa pengertian
konstruktif?
4.
Bagaimana Mengetahui
apa saja manfaat berfikir konstruktif?
5.
Mengapa mahasiswa wajib
memiliki sikap kreatif dan konstruktif?
C.
Tujuan
1.
Memahami
pengertian kreativitas
2.
Mengetahui ciri-ciri orang yang memilki
kreatifitas
3.
Memahami faktor-faktor
yang mempengaruhi tumbuhnya kreatifitas
4.
Memahami
pengertian konstruktif
5.
Mengetahui apa saja
manfaat berfikir konstruktif
6.
Mengetahui kewajiban
mahasiswa memiliki sikap kreatif dan konstruktif
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kreatifitas
Kreatifitas memiliki berbagai arti, menurut kamus besar bahasa
Indonesia, kreatif adalah memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan;
bersifat (mengandung) daya cipta. Sedangkan kreatifitas
adalah kemampuan untuk mencipta; daya cipta; perihal berkreasi; dan
kekreatifan.
Daya cipta atau kreatifitas adalah
proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan
anggitan yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran berdayacipta (creative thinking)
(kadang disebut pemikiran bercabang)
biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif,
konsepsi sehari-hari dari daya cipta adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.
Daya cipta di masa kini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor: keturunan dan
lingkungan.
Conny
Semiawan mengatakan Kreatifitas
merupakan ekspresi tertinggi dan yang bersifat terintegrasikan, yaitu sintesa
dari semua fungsi dasar manusia seperti rasio, intuisi, rasa dan talen cipta.
(Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, hal, 51-52).
Sedangkan Utami Munandar menyimpulkan konsep kreativitas dengan pendekatan Empat
P, Yaitu: Pribadi, Proses, Produk, dan Pendorong. Yang pengertian
definisinya sebagai berikut:
a. Definisi
Pribadi: kreatifitas muncul dari keunikan keseluruhan
kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. (Hulbeck). Kreatifitas merupakan titik
pertemuan yang khas antara 3 atribut psikologis: intelegensi, gaya kognitif,
kepribadian /motivasi. (Sternberg).
b. Definisi
Proses: Kreatifitas nampak di dalam cara menemukan
masalah, kesulitan, informasi yang salah, unsur-unsur yang salah, hingga
menyampaikan hasilnya.
c. Definisi
Produk: Kreatifitas menekankan unsur orisinalitas,
kebaruan, dan kebermaknaan: Barron dan Vernon menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan
untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Ditambahkan oleh Haefele
bahwa produknya tidak harus slalu baru tetapi kombinasinya. Munandar
menambahkan bahwa produknya harus mempunyai makna sosial. (1980).
d. Definisi
Pendorong: Kreatifitas menekankan pada faktor pendorong
internal yaitu diri sendiri dan eksternal, yaitu lingkungan sosial dan
psikologis. Faktor internal termasuk motivasi intrinsik (pendorong internal).
Dan lingkungan sosial yang kondusif (pendorong eksternal). (Munandar,
1999:28.29).
Dilihat
dari bebagai pengertian kreatifitas di atas, dapat
disimpulkan bahwa kreatifitas
adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa
gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk aptitude (berpikir
kreatif) maupun non aptitude (Afektif), baik dalam karya baru maupun
kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda
dengan apa yang telah ada sebelumnya.
B. Ciri-Ciri
Orang yang Memiliki Sifat Kreatif
a. Kelancaran
berpikir (Fluency): mencetuskan banyak gagasan, jawaban, pertanyaan. Selalu
memikirkan lebih dari satu jawaban. Anak yang memiliki kelancaran berpikir akan
mengajukan banyak pertanyaaan, menjawab dengan sejumlah jawaban, banyak
gagasan, bekerja lebih cepat dari anak-anak lain, cepat melihat kesalahan pada
obyek atau orang lain.
b. Mampu
berpikir luwes (fleksible): menghasilkan jawaban yang bervariasi, melihat
masalah dari berbagai pandangan, banyak alternatif, mampu mengubah cara
berpikir dan pendekatan. Anak yang mampu berpikir luwes akan memberikan beragam
penggunaan yang tidak lazim, macam-macam penafsiran terhadap suatu gambar atau
obyek, posisi sering bertentangan dengan mayoritas, mampu mengubah arah
berpikir secara spontan.
c. Mampu
berpikir orisinal (originalitas): mampu melahirkan ungkapan yang baru dan
unik, memikirkan cara yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
o
Selain ciri-ciri anak
kreatif di atas, Guilford mendeskripsikan 5 ciri kreatifitas :
§ Kelancaran
: Kemampuan memproduksi banyak ide.
§ Keluwesan
: Kemampuan untuk mengajukan bermacam-macam pendekatan jalan pemecahan masalah.
§ Keaslian
: Kemampuan untuk melahirkan gagasan yang orisinil sebagai hasil pemikiran
sendiri.
§ Penguraian
: Kemampuan menguraikan sesuatu secara
terperinci.
§ Perumusan
Kembali : Kemampuan untuk mengkaji kembali
suatu persoalan melalui cara yang berbeda
dengan yang sudah lazim.
o
Wallas dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa
proses kreatif meliputi 4 tahap :
§ Tahap
Persiapan, memperisapkan diri untuk memecahkan
masalah dengan mengumpulkan data/ informasi, mempelajari pola berpikir dari
orang lain, bertanya kepada orang lain.
§ Tahap
Inkubasi, pada tahap ini pengumpulan informasi
dihentikan, individu melepaskan diri untuk sementara masalah tersebut. Ia tidak
memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya’ dalam alam
pra sadar.
§ Tahap
Iluminasi, tahap ini merupakan tahap timbulnya
“insight” atau “Aha Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru.
§ Tahap
Verifikasi, tahap ini merupakan tahap pengujian
ide atau kreasi baru tersebut terhadap
realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Proses divergensi
(pemikiran kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran kritis).
C. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Tumbuhnya Kreativitas
Kreativitas tidak saja bergantung
kepada potensi bawaan yang khusus, tetapi juga pada perbedasan mekanisme
mental yang menjadi sasaran untuk mengungkapkan sifat bawaan. Mekanisme bawaan
ini dihasilkan oleh suatu tipe adaptasi awal. Jadi faktor-faktor yang
mempengaruhi disini adalah:
- Dorongan,
terlepas dari seberapa jauh potensi anak memenuhi standar
orang dewasa, mereka harus didorong untuk kreatif dan bebas dari
menentukan masa depannya sendiri.
- Sarana,
harus disediakan untuk meransang melakukan eksprimen dan
eksplorasi yang merupakan unsur penting dalam kreatifitas.
- Lingkungan
yang merangsang. Lingkungan keluarga dan sekolah harus merangsang kreatifitas dengan
memberi bimbingan dan dorongan untuk menggunakan sarana yang akan
mendorong kreatifitas.
Ini harus dilakukan sedini mungkin agar menjadikan remaja yang kreatif.
- Kesemapatan,
untuk memperoleh pengetahuan agar dapat berkembang pikiran yang positif.
- Dari
segi waktu, untuk menjadi kreatif harus diberi waktu dalam mengembangkan
gagasan-gagasan yang ada pada remaja tersebut.
D.
Pengertian Konstruktif
Pengertian berpikir sebagai sebuah
proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi
dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian,
abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah.
Berpikir konstruktif, adalah membangun kesadaran yang bersifat membina, membangun dan memperbaiki, sehingga kita tidak tenggelam dalam situasi pesimis dan ketakutan yang beralasan.
Berpikir konstruktif, adalah membangun kesadaran yang bersifat membina, membangun dan memperbaiki, sehingga kita tidak tenggelam dalam situasi pesimis dan ketakutan yang beralasan.
E. Manfaat Berpikir Konstruktif
- Menjadi lebih
sehat : Pikiran kita secara langsung mempengaruhi tubuh dan bagaimana cara
bekerjanya. Ketika mengganti pikiran negatif dengan ketenangan,
kepercayaan dan kedamaian, bukannya dengan kebencian, kecemasan, dan kekhawatiran,
maka Anda akan merasakan kesejahteraan. Dan ini berarti Anda tidak
mengalami gangguan saat tidur, tidak merasakan ketegangan otot, kecemasan,
dan kelelahan. Orang-orang yang berpikir negatif lebih mudah terkena depresi.
- Percaya diri :
Dengan berpikir positif, maka Anda lebih percaya diri dan tidak untuk mencoba menjadi orang
lain. Jika Anda tidak percaya diri Anda tidak akan pernah mendapatkan kehidupan
yang lebih baik.
- Bisa mengambil
keputusan yang benar : Berpikir positif mencegah Anda memilih keputusan
yang salah atau melakukan hal yang bodoh yang kemudian Anda sesali.
Berpikir positif membuat Anda memilih keputusan dengan cepat.
- Meningkatkan fokus
: Menggunakan pikiran positif membantu Anda lebih fokus saat menghadapi
masalah. Jika Anda berpikir negatif akan membuang-buang waktu, dan energi
Anda.
- Bisa mengatur
waktu lebih baik : Dengan meningkatnya fokus serta kemampuan membuat
keputusan yang lebih baik, Anda akan lebih terorganisir. Ini akan membantu
Anda mendapatkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan orang yang Anda
cintai.
- Lebih sukses dalam
hidup : Sikap positif tak hanya bisa meningkatkan fokus Anda dan lebih
bisa mengatur waktu dengan baik tetapi mengarahkan Anda pada kebahagian
dan keberhasilan saat mengubah hidup Anda.
- Memiliki banyak
teman : Ketika berpikir, Anda akan menarik perhatian orang-orang dan
ketika orang-orang tersebut dekat dengan Anda mereka akan merasa nyaman.
- Menjadi pemberani
: Ketakutan berasal dari pikiran negatif. Menjadi pemikir positif
menghilangkan rasa takut. Keberanian berasal dari kenyataan bahwa Anda
tetap positif Anda akan tahu bahwa apapun yang terjadi dalam hidup Anda,
Anda dapat menghadapinya.
- Hidup lebih
bahagia: Percaya diri merupakan suatu fakta bahwa Anda bahagia
menjadi diri Anda sendiri dan tidak mencoba untuk menjadi orang lain. Jika
Anda memiliki semangat berpikir positif, Anda selalu mengantisipasi hidup
bahagia, damai, tawa, kesehatan yang baik dan kesuksesan finansial.
F.
Kewajiban Mahasiswa
Memiliki Sikap Kreatif dan Konstruktif
Dalam sebuah dunia perkuliahan terdapat budaya
akademik yang harus dimiliki mahasiswa. Budaya akademik merupakan sebuah hal
yang harus dimiliki seseorang yang menuntut ilmu. Dalam dunia perkuliahan
budaya akademik wajib dimiliki oleh setiap mahasiswa karena merupakan sebuah
dasar yang akan nantinya memiliki manfaat kedepannya. Hal ini memiliki manfaat
yang besar baik bagi personal maupun kepada masyarakat luas.
Budaya akademik sendiri memiliki 13 unsur
didalamnyya yang meliputi, kritis, kreatif, objektif, analitis, konstruktif,
dinamis, dialogis, bersedia dikritik, menghargai prestasi akademik, bebas dari
prasangka, menghargai waktu, memiliki dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah.
Semua unsur inilah yang wajib dipelajari bahkan diterapkan oleh mahasiswa.
Dari 13 unsur budaya diatas ada beberapa unsur yang
menarik untuk dibahas yaitu mengenai konstruktif dan dialogis. Yang pertama
adalah konstruktif. Konstruktif adalah sebuah sikap dimana kita harus memiliki
jiwa membangun untuk diri sendiri ataupun orang lain. Unsur ini sangatlah sulit
ditemukan di jaman ini karena berbagai faktor. Mungkin ada disini
mahasiswa-mahasiswa yang memiliki unsur konstriktif dimana dia selalu membangun
baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan.
Konstruktif sendiri dapat juga diambil contoh ketika
kita sedang dalam diskusi namun mencapai kebuntuan, inilah peluang kita untuk
memberi masukan-masukan atau ide-ide membangun. Konstruktif sendiri bisa juga
dibilang sebagai penyemangat dalam arti ketika teman atau kerabat kita sedang
dirundung duka kita gunakan unsur ini seperti menghibur atau memberi semangat
dengan begitu unsur konstruktif memiliki banyak efek dikalangan mana saja
terutama dalam perkuliahan.
BAB III
PENUTUPAN
·KESIMPULAN
Kreativitas
adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa
gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk aptitude (berpikir
kreatif) maupun non aptitude (Afektif), baik dalam karya baru maupun
kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda
dengan apa yang telah ada sebelumnya. Antara kecerdasan dengan kerativitas
memiliki keterkaitan, dan menimbulkan istilah baru yang disebut kecerdasan
kreativitas (creativity quotient).
Creative
Intelligence menyangkut kemampuan untuk belajar
dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap
situasi-situasi yang kurang dikenal, atau dalam pemecahan masalah-masalah.
manusia yang belajar sering menghadapi situasi-situasi baru serta permasalahan.
hal itu memerlukan kemampuan individu yang belajar untuk menyesuaikan diri
serta memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi. Kecerdasan kretivitas (CQ)
yang dimiliki seseorang juga sama seperti jenis kreativitas yang lain, dapat
diukur. Jenis pengukuran yang dilakukan pada intinya untuk menilai empat hal
yang dimiliki oleh seseorang, yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility)¸
orisinalitas (originality) dan elaborasi (elaborations).
Perbedaan tes inteligensi dengan tes creativitas, yaitu pada kriteria jawaban.
Tes inteligensi menguji kemampuan berpikir memusat (konvergen), karena itu ada
jawaban benar dan salah, sedangkan tes creativitas menguji berpikir menyebar
(divergen) dan tidak ada jawaban benar atau salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar